{"id":610,"date":"2021-10-01T09:34:39","date_gmt":"2021-10-01T02:34:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.shs.co.id\/?p=610"},"modified":"2021-10-01T09:34:39","modified_gmt":"2021-10-01T02:34:39","slug":"pakan-yang-bersih-untuk-keuntungan-lebih-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/pakan-yang-bersih-untuk-keuntungan-lebih-baik\/","title":{"rendered":"Pakan yang &#8220;Bersih&#8221; Untuk Keuntungan Lebih Baik"},"content":{"rendered":"<p>Tidak dipungkiri bahwa dalam usaha\u00a0 peternakan, apapun\u00a0\u00a0 jenis ternak yang dipelihara; pakan merupakan salah satu factor utama yang menentukan untung ruginya sebuah usaha peternakan.\u00a0 Namun demikian\u00a0 pakan bukanlah satu satunya\u00a0 factor penentu dari keberhasilan sebuah usaha peternakan.\u00a0 Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah bibit serta\u00a0 lingkungan dimana ternak dipelihara serta kondisi kesehatan ternak itu sendiri.<\/p>\n<p>Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa pakan\u00a0 merupakan salah satu bagian dalam usaha ternak yang terkontaminasi berbagai mikroorganisme, baik bakteri pathogen, virus maupun jamur yang berdampak pada\u00a0 pencapaian performance yang tidak maximal\u00a0 baik secara tekhnis maupun ekonomis.<\/p>\n<p>Dengan segala daya dan upaya , peternak selalu berusaha untuk mencapai hasil\u00a0 maximal performance ternaknya dengan cara memilih kualitas bibit yang terbaik, pakan yang terbaik, menciptakan lingkungan yang terbaik sesuai\u00a0 dengan\u00a0 syarat\u00a0 yang ditentukan .<\/p>\n<p>Untuk mendapatkan bibit yang baik, peternak tentunya sudah dapat melakukannya dengan memilih perusahaan pembibitan yang telah memiliki reputasi baik di mata peternak. Untuk Lingkungan terbaik , peternak dapat melakukan\u00a0 pemeliharaan secara modern ( close house ) dimana semua\u00a0 kondisi mikro alam seperti kelembaban, suhu, kecepatan angin, kadar O2 , kadar ammonia, dapat diatur\u00a0 sesuai dengan kebutuhan yang dipersyaratkan,\u00a0 dimana hal tersebut tidak mungkin dilakukan dalam system pemeliharaan secara kovensional ( open house ).<\/p>\n<p>Dalam usaha mendapatkan lingkungan terbaik khususnya terkait dengan usaha meminimlakan\u00a0 kontaminasi pathogen dalam farm, berbagai cara juga dilakukan seperti, penyemprotan disinfekatan untuk baik kendaraan maupun orang yang akan masuk ke dalam lingkungan farm, penerapan mandi dang anti pakaian bagi operator kandang, serta juga penyemprotan disinfektan secara berkala di dalam lingkungan farm\u00a0 yang bertujuan untuk menurunkan konsentrais pathogen yang ada di sekitar ternak yang dipelihara.<\/p>\n<p>Alasan dari itu semua dilakukan adalah usaha peternak sebagai produsen protein hewani\u00a0 dalam menghasilkan\u00a0 sumber protein hewani\u00a0 yang sehat, cukup dan aman untuk konsumsi manusia.\u00a0 Berbicara mengenai\u00a0 sumber protein hewani yang\u00a0 sehat, cukup, dan aman untuk konsumsi, maka\u00a0 kita harus\u00a0 yakin bahwa seluruh rantai\u00a0 yang terlibat\u00a0 bahkan pada sebutir telur yang siap kita makan di meja makan kita haruslah aman, sehat dan\u00a0 harus diusahakan dengan sadar.\u00a0 Hal ini berarti\u00a0 mulai dari bahan baku\u00a0 pakan, proses produksi pakan serta proses pemeliharaan\u00a0 ternak\u00a0 harus terjamin\u00a0 bebas dari berbagai macam kontaminasi pathogen\u00a0 karena akan berdampak\u00a0 pada kesehatan\u00a0 hewan dan juga pada kahirnya pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.<\/p>\n<p><strong>Resiko Kontaminasi Pathogen dalam Pakan<\/strong><\/p>\n<p>Berbagai macam pathogen\u00a0 dapat mengkontaminasi pakan , dan pada akhirnya berdampak buruk pada performance hewan serta beresiko pada manusia.\u00a0 Berikut ini adalah\u00a0 beberapa bakteri pathogen yang umum mengkontaminasi pakan, diantaranya adalah :<\/p>\n<p><em>Enterobacteriaceae, Escherichia coli,Clostridium, Staphylococcus, Streptococcus, Campylobacter, Salmonella,Molds &amp; Mycotoxins, Listeria, Pseudomonas, Pasteurella, Yeasts, <\/em>Viruses<\/p>\n<p>Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Anitox\u00a0\u00a0 mengenai tipikal kontaminasi Closteridium Perfringes pada bahan baku dapat kita lihat dalam Tabel 1. Di bawah ini.<\/p>\n<figure id=\"attachment_612\" aria-describedby=\"caption-attachment-612\" style=\"width: 918px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-612\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"918\" height=\"504\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel1-1.jpg 918w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel1-1-300x165.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel1-1-768x422.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel1-1-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 918px) 100vw, 918px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-612\" class=\"wp-caption-text\">Tabel 1. Tipikal kontaminasi Closteridum Pefringens pada bahan baku pakan<\/figcaption><\/figure>\n<p>Perihal\u00a0 pakan sebagai produk jadi\u00a0 yang berasal dari berbagai\u00a0 bahan baku yang diramu menjadi sebuah komplit feed yang ternyata\u00a0 terbukti terkontaminasi mikroorganisme baik pathogen maupun tidak, berikut ini adalah tempat tempat dimana pathogen dapat mengkontaminasi.\u00a0 \u00a0Pertama adalah\u00a0 kontaminasi pada bahan baku pakan (Barakat 2004) ,\u00a0 diikuti kemudian kontaminasi pada saat proses produksi pakan di pabrik ( shrimpton 1989 ), tidak berhenti disini saja, kontaminasi berlanjut pada saat pakan jadi ditransportasikan dari pabrik ke farm. Kontaminasi juga masih berlanjut ketika pakan disimpan dalam gudang farm, bahkan sampai ketika pakan diberikan kepada hewan. Richardson ( 2005 ) membutikan bahwa ada peningkatan level \u00a0bakteri pathogen sebesar 185 sd 2,119 persen hanya dalam waktu 3 hari setelah pakan dari pabrik disimpan di gudang farm. Pada akhirnya kontaminasi Bakteri pathogen yang ada dalam\u00a0 rangkaian proses produksi protein hewani ini diketemukan pada telur yang siap di konsumsi (Shirota, et all 2001 )<\/p>\n<p>Merujuk pada penemuan Barakat\u00a0 2004, yang menunjukkan bahwa tidak ada satupun bahan baku pakan yang tidak beresiko terkontaminasi bakteri, serta temuan Richardson mengenai\u00a0\u00a0 typical kontaminasi Closteridium Pefreingens\u00a0 pada bahan baku pakan,\u00a0 tidak heranlah kita jika saat ini tidak ada satupun farm yang tidak memiliki problem enteritis khususnya\u00a0 necrotic enteritis ( penyebab necrotic enteritis adalah CLosteridium Perfringens ).<\/p>\n<p>Dampak enteritis terhadap performance hewan telah banyak di teliti dan sudah bukan merupakan perdebatan lagi beberapa peneliti di bawah ini telah memberikan laporan hasil penelitian mereka\u00a0 yang menyatakan bahwa enteritis berdampak negative pada penyerapan nutrisi, penurunan pertambahan bobot badan serta penurunan eficiensi pakan.<\/p>\n<p>Madhavi et al, 2010 menemukan terjadinya penurunan 17 point FCR setalah 42 hari infeksi.\u00a0 Enelitian lain\u00a0\u00a0 oleh Borosi et al, 2011 menemukan\u00a0 bahwa setlah 12 jam infeksi,\u00a0 ungags\u00a0 dapat kehilangan 20,9 % sd 35%\u00a0 luas penampang permukaan absorbs dalam saluran cerna.\u00a0 Sementara itu Jarayaman et all, 2013 menegaskan bahwa\u00a0 kejadian eneteritis menyebabkan\u00a0 kehilangan 6,5 gr pertumbuhan bobot badan harian setelah \u00a028 hari terinfeksi<\/p>\n<p>Berikut ini adalah dampak nyata yang terjadi ketika pakan \u201c bersih\u201d diberikan pada ternak.\u00a0 Pertama adalah\u00a0 peningkatan value nutrisi yang diivestasikan\u00a0 terkait dengan kualitas pakan yang akan menjadi lebih baik,, yang kedua adalah.\u00a0 Formulasi nutrisi\u00a0 lebih\u00a0 presisi sesuai dengan kebutuhan hewan, serta\u00a0 penurunan level kontaminasi pathogen dalam pakan; yang ketiga adalah keuntungan dalam hal minimalisasi kerusakan fili intestinal oleh karena keberadaan pathogen, yang keempat adalah terciptanya kesehatan prima saluran cerna\u00a0 yang berdampak\u00a0 positif pada\u00a0 perbaikan kapasitas digesti dan absorbs nutrisi saluran cerna, dan yang terakhir adalah terciptanya\u00a0 microbiota saluran cerna yang\u00a0 lebih sehat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Mengatasinya ?<\/strong><\/p>\n<p>Kontaminasi baik itu bakteri pathogen , jamur, bahkan virus dalam pakan adalah sebuah kenyataan.\u00a0 Kontaminasi ini akan berdampak negative pada\u00a0 performance produksi sebagaimana telah banyak di teliti oleh\u00a0 para penliti di atas.\u00a0\u00a0 OLeh karenanya\u00a0 pakan yang kita berikan kepada hewan juga perlu mendapatkan perhatian akan\u00a0 \u201c kebersihannya \u201c.\u00a0 Bersih dalam arti minimal kontaminasi pathogen yang berdampak langsung pada kesehatan saluran cerna yang pada akhirnya berdampak pada penurunan performance karena\u00a0\u00a0 ada penurunan kapasitas digesti, absorbsi serta immunity dalam salurn pencernaan.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0 prakteknya, usaha untuk meminimalkan level kontaminasi\u00a0 bakteri pathogen dalam pakan ini dapat dilaksanakan\u00a0 melalui tiga cara, yaitu melalui proses pemanasan,\u00a0 pengasaman serta penggunaan Termin 8.\u00a0 Dari 3 cara yang umum dilakukan penggunaan Termin 8 dalam usaha meminimalkan level kontaminasi bakteri dalam pakan, sehingga\u00a0 tersedia pakan \u201c bersih \u201c bagi hewan adalah yang\u00a0 paling efektif.<\/p>\n<p>Jadi, kenapa\u00a0 menggunakan Termin 8 meruakan pilihan palingefektif untuk meminimalkan level kontaminasi bakteri dalam pakan ?? Mari kita bersama pelajari.\u00a0 Penggunaan treatment panas untuk menurunkan level kontaminasi bakteri memang efektiv, tetapi tidak ada efek residual perlindungan pada pakan setelah\u00a0 treatment\u00a0 panas berhenti.\u00a0 Yang kedua treatment panas akan memakan biaya mahal.\u00a0 Penggunaan \u2018long term condition\u201d bisa menghabiskan\u00a0 USD\u00a0 10 sd USD 12 per ton pakan, demikian juga jika menggunakan coocker conditioner, biaya yang akan ditimbulkan kurang lebih sama.\u00a0 Kelemahan lain dari treatment panas ini adalah terlalu lama. Lamanya waktu treatment dipercaya akan berdampak pada kualitas nutrisi, pun juga tetap tdak ada efek residual proteksi setelah itu semua dilakukan.<\/p>\n<p>Aviagen merekomendasikan penerapan suhu 86 C selama 6 menit untuk mengeliminasi salmonella supaya konsentrasinya maximal 10^5\u00a0 CFU \/ gram.<\/p>\n<p>Lalu bagaimana dengan penggunaan tekhnik pengasaman?\u00a0 Penurunan level kontaminasi bakteri dengan pemberian asam ( asam organic ) memang dapat dilakukan,\u00a0 tetapi umumnya akan membutuhkan dosis\u00a0 yang tinggi .\u00a0 Berikut ini adalah beberapa penelitian yang membahas\u00a0 penggunaan asam organic untuk\u00a0 treatment kontaminasi bakteri pathogen :<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-613\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2.jpg\" alt=\"\" width=\"1110\" height=\"1272\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2.jpg 1110w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2-262x300.jpg 262w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2-894x1024.jpg 894w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2-768x880.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2-10x12.jpg 10w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel2-300x344.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 1110px) 100vw, 1110px\" \/><\/p>\n<p>Seperti yang dapat kita lihat dalam tulisan tulisan tersebut di atas; untuk memberikan efek bactericidal ; dosis asam organic harus tinggi.\u00a0 Ini juga akan berdampak pada biaya serta\u00a0 space nutrisi dalam formulasi yang tentunya sangat berharga bagi seorang nutritionist.\u00a0 Penggunaan organic acid juga tidak memberikan efek proteksi dari kejadian rekontaminasi setalh treatment.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Termin 8 , Pilihan tepat untuk Produksi Pakan \u201c Bersih \u201c <\/strong><\/p>\n<p><strong>Termin 8<\/strong> adalah produk antibacterial , dengan kandungan sinergis bahan active\u00a0 formaldehyde, propionic acid, terpenes dan surfaktan.\u00a0 Produk ini di produksi oleh Anitox dan sudah dipatenkan menjadi produk\u00a0 yang didedikasikan khusus untuk treatment\u00a0 pakan dan bahan baku pakan dari kontaminasi pathogen.\u00a0 Filosofi sederhana yang ingin disampaikan adalah\u00a0 \u201c daripada\u00a0 hewan harus bersusah payah mengeliminasi pathogen ketika sudah masuk dalam tubuh lewat pakan, lebih baik dieliminasi dulu dalam pakan sebelum masuk kedalam tubuh ayam\u201d<\/p>\n<p>Berikut ini adalah beberapa alasan utama\u00a0 yang menjadikan Termin 8 \u201c product of Choice \u201c\u00a0 untuk eliminasi bakteri pathogen dalam pakan maupun bahan baku pakan.<\/p>\n<p><strong>Termin 8 Efektive membunuh semua jenis pathogen<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-614\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3.jpg\" alt=\"\" width=\"1132\" height=\"644\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3.jpg 1132w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3-300x171.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3-1024x583.jpg 1024w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3-768x437.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel3-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1132px) 100vw, 1132px\" \/><\/p>\n<p>Dengan dosis 0,1%\u00a0 mampu mengeliminasi 100 persen bakteri pathogen di atas. Sebuah penelitian independent invitro juga mengkonfirmasi bahwa Termin 8 mampu menginactivasi virus influenza yang mencemari pakan<\/p>\n<p><strong><em>Termin 8 menginaktivasi Virus Avian Influenza ( sumber Anitox , 2010 ) <\/em><\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-615\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel4.jpg\" alt=\"\" width=\"888\" height=\"352\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel4.jpg 888w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel4-300x119.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel4-768x304.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel4-18x7.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 888px) 100vw, 888px\" \/><\/p>\n<p><strong>Termin 8 membantu mengnontrol CLosteridium Perfringens dalam Pakan<\/strong><\/p>\n<p>Dalam tabel di bawah ini R &amp; D Anitox juga dapat membuktikan bahwa termin * secara significan berkontribusi dalam mengontrol Closteridium Perfringens dalam pakan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-616\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel5.jpg\" alt=\"\" width=\"616\" height=\"320\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel5.jpg 616w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel5-300x156.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel5-18x9.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 616px) 100vw, 616px\" \/><\/p>\n<p>Hal ini tentunya akan memiliki dampak positive pada penurunan kasus necrotic enteritis di farm yang disebabkan oleh CLosteridium Perfringens.<\/p>\n<p><strong>Efek residual Protection Termin 8\u00a0 terbukti , dan di akui oleh FDA<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-617\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel6.jpg\" alt=\"\" width=\"924\" height=\"516\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel6.jpg 924w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel6-300x168.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel6-768x429.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel6-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 924px) 100vw, 924px\" \/><\/p>\n<p><strong>Termin 8 mengontrol Salmonela dengan sangat baik<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-618\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel7.jpg\" alt=\"\" width=\"578\" height=\"318\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel7.jpg 578w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel7-300x165.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel7-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 578px) 100vw, 578px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dari uraian di atas, dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa Termin 8 adalah\u00a0 Patogen control yang sangat efektiv digunakan di pakan.\u00a0 Pastikan bahwa performance produksi ternak\u00a0 kita tidak terganggu oleh adanya pathogen yang masuk bersama dengan pakan yang dimakan.\u00a0 Pastikan pakan yang kita berikan ke ternak kita selalu bersih, minimal kontaminasi dan kalua bisa bersih dari kontaminasi pathogen sehingga berdampak positive pada kesehatan yang pada akhirnya akan\u00a0 berpengaruh pada keuntungan secara ekonomis.<\/p>\n<p>Berikut ini adalah rangkuman yang memudahkan kita mengingat \u201c mengapa Termn 8 adalah pilihan terbaik untuk control pathogen dalam pakan \u201c<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-619\" src=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8.jpg\" alt=\"\" width=\"1166\" height=\"230\" srcset=\"https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8.jpg 1166w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8-300x59.jpg 300w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8-1024x202.jpg 1024w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8-768x151.jpg 768w, https:\/\/www.shs.co.id\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/tabel8-18x4.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1166px) 100vw, 1166px\" \/><\/p>\n<p>Tentukan\u00a0 keputusan anda, mulailah segalanya dengan yang \u201c bersih \u201c\u00a0 untuk performance yang lebih baik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak dipungkiri bahwa dalam usaha\u00a0 peternakan, apapun\u00a0\u00a0 jenis ternak yang dipelihara; pakan merupakan salah satu factor utama yang menentukan untung<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":613,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-610","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=610"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":620,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/610\/revisions\/620"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=610"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=610"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.shs.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=610"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}